Mama, Aku Takut Bertanya di Kelas

“Dita, nilai Dita hanya 60?” Mama mendekat dan duduk di samping Dita.

Dita mengangguk.

“Dita belum paham pelajarannya atau kurang belajarnya?” selidik Mama tanpa nada marah.

“Dita menoleh ke arah Mama. “Sebetulnya, Dita kurang paham, Ma.”

Mama mulai menangkap problem putrinya. “Dita dapat bertanya ke Pak Guru …”

“Bukan Pak Guru, Ma,” potong Dita, “yang ngajar Bu Guru.”

Mama tersenyum, “Iya deh. Apakah Dita sudah coba bertanya saat tidak paham?”

Dita menggeleng. Mama mengerutkan kening.

“Dita takut bertanya …” Dita menjawab pendek.

“Pasti ada sebabnya,” tebak Mama.

Dita mengangguk sambil menatap Mama.

“Dita pernah bertanya, tapi ditegur Bu Guru. Eit, Mama jangan motong dulu ya. Kedua, Dita pernah bertanya lagi tapi Bu Guru tidak memperhatikan. Ketiga kali Dita coba bertanya tapi malah diketawain teman-teman karena Dita dikacangin Bu Guru.”

Mama tertawa kecil. “Putri Mama ngambeg ya,” goda Mama.

Dita cemberut. “Dita pikir, Bu Guru pilih kasih. Jadinya Dita takut bertanya lagi. Mending diem, tanya teman, atau cari jawaban di buku aja,” sela Dita.

“Mama kenal semua Bu Guru di sekolah Dita. Semua baik kok,” hibur Mama. “Mau, Mama ajarin cara bertanya yang baik di kelas?”

Dita mengangguk cepat. Dia antusias sekali.

“Pertama, kenali kebiasaan tiap guru. Ada guru yang tidak masalah jika siswa memotong pelajaran untuk bertanya. Tapi ada juga guru yang membolehkan siswa bertanya saat beliau memberi kesempatan.”

“Oke, Ma. Dita paham.”

“Nah, aturan kedua, hormati Bapak dan Ibu Guru. Mintalah izin setiap kali ingin bertanya. Angkat telunjuk tiap kali mau bertanya.”

“Dita udah angkat telunjuk, Ma. Tapi tetap dicuekin!” Dita menukas.

Mama tersenyum geli. “Seberapa tinggi angkat telunjuknya?”

“Segini, Ma.” Dita mempraktikkan di depan Mamanya.

“Duh, kurang tinggi, Dita. Kalau cuma setinggi telinga, itu bukan salah Bu Guru jika tidak tahu Dita pingin tanya. Kemungkinan Bu Guru tidak melihatnya. Coba deh lain kali angkat telunjuk sampai lengan lurus ke atas. Dijamin pasti kelihatan.”

“Iya deh Maaa ….”

“Nah aturan berikutnya, selalu mengucapkan terima kasih atas jawaban yang diberikan Bapak dan Ibu Guru ya,” nasihat Mama.

“Lha kenapa? Kan tugas mereka menjelaskan pada Dita dan teman-teman?” sahut Dita.

“Hush! Mengucapkan terima kasih selain sebagai sopan santun, juga untuk menunjukkan bahwa Dita menghargai budi baik mereka yang telah tulus mengajar.”

“Oh, gitu ya. Maafin Dita deh karena berpikir Bu Guru pilih kasih.”

“Yah, salah alamat dong. Mosok minta maaf ke Mama, hahaha …,” goda Mama sambil tertawa.

Dita ikut tertawa. Dia lebih lega sekarang.